Parkiran Kendaraan Ada di Atas, Pengunjung Pantai Wediombo Boleh Lebih Tenang Berwisata


Hari sudah mulai beranjak siang di Kawasan Konservasi Perairan Wediombo. Obyek wisata yang lebih dikenal dengan nama Pantai Wediombo ini terletak di Desa Jepitu, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pantai yang menghadap ke lautan lepas Samudera Indonesia ini dapat ditempuh kendaraan roda empat selama lebih kurang dua setengah jam dari pusat kota Yogya dengan kecepatan santai.

Waktu menunjukkan pukul 10.30 WIB. Cuaca cerah berawan, suasana cukup kondusif dan udara terasa sejuk. Hamparan panorama samudera lepas menyambut para pengunjung. Suara deburan ombak pun sudah terdengar jelas di lokasi lapangan parkir.


Sebelum menemui lapangan parkir tersebut, terdapat turunan cukup curam, licin dan menikung yang harus dilalui para pengendara dengan ekstra hati-hati. Kondisi ini sebelumnya disampaikan oleh petugas jaga di pos gerbang masuk, 1 km sebelum mencapai pantai.

Meski nama Pantai Wediombo sudah dapat dengan mudah ditemukan di laman pencarian internet, pada hari Selasa (25/12/2018) yang bertepatan dengan libur Natal, ternyata suasananya cukup sepi.

Hal ini terasa berbeda jika dibandingkan dengan Pantai Indrayanti, sama-sama terletak di pesisir selatan Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, yang di hari-hari libur selalu ramai oleh kehadiran para wisatawan.


Tidak jelas benar, apakah sepinya pengunjung tersebut disebabkan oleh efek psikologis terjadinya bencana tsunami di Banten dan Lampung, ataukah karena adanya info cuaca hujan dan gelombang tinggi yang biasanya dapat menyebabkan para calon pengunjung mengurungkan niatnya.

Boleh jadi pula, karena Pantai Wediombo memang belum seterkenal Pantai Indrayanti, Parangtritis, maupun pantai-pantai lain di Yogyakarta. Tetapi, sebenarnya pantai ini memiliki keunikan tersendiri jika dikaitkan dengan isu gelombang pasang atau ombak tinggi.

“Tidak usah kuatir, ombak pada saat gelombang tinggi hanya sampai di benteng pembatas saja, tidak pernah lewat itu ketinggiannya,” ungkap seorang petugas 'baywatch' setempat menerangkan.

Sebelumnya, para pengunjung akan melewati medan berbukit-bukit, bahkan turunan curam sebelum sampai di pantai ini. Sementara itu, lokasi parkiran mobil ditempatkan berada di posisi yang lebih tinggi, sehingga para pengunjung boleh sedikit berkurang kekuatirannya terkait gelombang laut yang tiba-tiba pasang dan dapat merusak kendaraan.


Sementara itu, untuk mencapai bibir pantai terdapat sekitar 70 anak tangga dengan kemiringan yang cukup menantang. Hebatnya, sepeda motor diberi jalan khusus untuk melewati turunan ini, bahkan terdapat parkiran motor di area bawah yang lebih dekat ke pantai. Motor yang kondisinya kurang sehat mungkin akan ngos-ngosan jika dipacu menaiki tanjakan ini.

Area utama parkir mobil dapat menampung puluhan mobil saja di lapangan terbuka. Terdapat pula tambahan tempat parkir khusus berupa bangunan non permanen yang memiliki atap di salah satu sudut lain. Jika penuh, mobil harus diparkir di lapangan lain di atas bukit, sehingga pengunjung terpaksa harus berjalan kaki lebih jauh untuk menuju ke bibir pantai.


Biaya parkir mobil hanya Rp. 10.000 saja, cukup terjangkau. Bapak dan ibu petugas parkirnya pun ramah, sopan serta komunikatif. Di sisi ini, selain merasa aman meninggalkan kendaraan di ketinggian, pelayanan petugas parkirnya pun memuaskan serta membuat nyaman.

Post a Comment

Tidak ada komentar