Penikmat Sisa


Lirih. "Aku nggak akan membiarkan makanan nggak habis, Ayah," gumam seorang bocah. Lelaki dewasa di sampingnya mendekatkan mulut ke telinga bocah itu, "Ya, Nak, nggak boleh. Itu mubadzir namanya…." Sang bocah mengangguk. Mereka berdua masih menunggu saat yang tepat.

Ketika sebuah mobil mewah mendekat, dan para tamu resto cepat saji beringsut dari kursinya, masuk ke dalam kendaraan, kedua ayah-anak itu sama-sama melepas napas. Rasa lega merasuki relung hati keduanya.

Terlebih, sepasang mata muncul dari balik pintu resto, mengangguk ke arah mereka, menyuruh cepat. Ayah dan anak bergegas menghampiri meja ujung di teras resto yang mulai sepi. Tanpa suara, tangan mereka cekatan bergerak.

Malam sudah makin larut. Dua karung kumal bergeletakan. Tak terisi penuh, sebab hasil memulung hari ini tak cukup banyak. Tapi setiap hari memang tak pernah sama, bukan? Dan bukan alasan untuk merasa tak punya apa-apa.

Ayah-anak duduk di tepi jembatan, memandang gemerlap kota di bawah sana. Sesekali tertawa. Mulut mereka sibuk mengunyah sisa.

Post a Comment

Tidak ada komentar