Dongeng Radio Jadul


"Melihat radio jadul yang dipajang di restoran seberang jalan, saya mah jadi ingat masa dulu waktu kecil, Mbah," ujar Kang Maman, penjual indomie rebus asal Kuningan, sambil menyimpan segelas besar kopi panas di atas meja warungnya yang sederhana.

Gelas yang mengepulkan asap harum tersebut segera berpindah tangan. Mbah Kakung, sebutan untuk Darmo, 70 tahun, segera menyeruputnya. Ia lantas segera menyalakan rokoknya. Rokok yang ditaburi butiran-butiran kemenyan itu sedari tadi sudah diraciknya. Sebutannya, rokok klembak. Wanginya luar biasa, tapi untunglah warung Kang Maman masih sepi dari pengunjung. Beruntung pula, nyaris tak ada penghalang di warung tersebut, serba terbuka, hingga bau klembak cepat terbawa angin.

"Zaman dulu yo memang cuma itu sarana hiburan masyarakat. Mas e mungkin masih mengalami, ya?" setiap kata Mbah Kakung seolah berkejaran dengan asap dari mulutnya. Orang-orang sempat heran, ia masih berstamina sebagai tukang tambal ban, sambil nyambi juga menyeberangkan anak-anak SD kalau pagi dan jam 2 siang.

"Dongeng, Mbah. Saya paling suka dongeng. Dongeng serial itu kadang ngegemesin karena nggak tamat-tamat, tapi selalu jadi penantian. Penantian bahwa besok ada lagi, nyambung lagi. Penantian kan harapan ya, Mbah?"

Mbah Kakung sejatinya seorang seniman yang sudah mencapai maqom lumayan. Ia tak membutuhkan pengakuan, tapi senang berbagi kisah kehidupan. Maka tak lama kemudian ia mendongengkan suasana Kota Jogja jaman baheula. Kang Maman sendiri tak pernah bosan medengarnya, meski ada beberapa bagian yang selalu diulang-ulang. Selalu ada hal baru yang ditemukan Kang Maman dalam cerita Mbah Kakung Darmo.

"Pamit dulu, Le. Piro iki kabeh? Gembus gorengnya satu, sego kucingnya satu," tanyanya ketika gelas kopi habis dan ceritanya sudah di entah bab keberapa. Seperti biasa ia selalu ingin membayar, tetapi seperti biasa pula Kang Maman selalu menolak dibayar.

"Radio di restoran seberang itu sekarang tinggal jadi kenangan, Le. Cuma pajangan, tak dibunyikan. Nah, kalau harapanmu, dongengmu, dulu masih bisa jadi kenyataan besoknya ... lha, sekarang bagaimana? Ketika harapan-harapan orang seperti kita ini yang malah berubah jadi dongeng, buat apalagi dituturkan toh? Sebentar juga dilupakan, kelindes zaman!"

Kang Maman, penjual indomie rebus yang terpikat perempuan Jogja dan akhirnya menetap di Kota Gudeg ini, tersenyum sambil garuk-garuk kepala. Jebolan madrasah aliyah di kampung halamannya itu hanya mampu menyerap sebagian kalimat Mbah Kakung. Tapi ia selalu husnuzon bahwa tukang tambal ban di depannya adalah seniman atau sastrawan yang sedang menjalankan laku pencarian.

"Yo wis, takpamit yo, Le. Itu langgananmu mulai datang. Takdongake, aku doakan selalu laris," ucap Mbah Kakung tulus, sambil berdiri, "tur barokah, nggih toh?"

"Nggih, Mbah. Hatur nuhun."

Jam makan siang sudah datang. Warung tenda Kang Maman di trotoar sebuah jalan di wilayah barat Kota Jogja, penuh oleh para pekerja, tukang becak dan driver ojol yang membutuhkan asupan demi menggapai harapan hari ini. Kang Maman teramat sibuk, melanjutkan lagi serial dongeng kehidupannya sendiri.

Post a Comment

Tidak ada komentar