Penantian


Sebagaimana Tugu Pal Putih yang tetap kukuh berdiri, kerinduannya tak tergoyahkan lagi. Setiap bulan, di malam bertanggal sama, ia datang menghampiri pojokan sebelah tenggara monumen ikonik itu. Ia melakukan ritual rutinnya, menanti kehadiran. Keyakinannya amat kuat, pertemuan hanyalah soal waktu.

Tak seperti dulu, kini tersedia bangku-bangku kayu untuk para pelancong melepas lelah di sana. Atau untuk sekadar bersantai. Maka iapun asyik menanti, sembari tumpang kaki, layaknya turis lokal menikmati suasana istimewa kota Jogja di malam hari.

Tapi malam ini terasa sangat berbeda. Kilasan-kilasan masa lalu berkelebatan sejak beberapa hari ke belakang di ingatannya. Beragam memori indah pun bergulung-gulung tak ada hentinya, bersamaan dengan kenangan yang cukup kelam.

"Kita akan bertemu lagi. Itu sudah garis hidupku. Kamu tunggu aku atau tidak, kita pasti bertemu lagi …."

Ucapan itu akhirnya berubah jadi kutukan.

***

"Sudah, di sini saja, Tih …."

Seakan, degup jantungnya tiba-tiba berhenti. Nada merdu itu lebih dari sekadar dikenalnya. Ia menoleh dan seketika terkesima. Perempuan bergaun batik warna toska. Wajah ovalnya sedang tersenyum sambil menunjuk Tugu. Terlihat cantik dan bercahaya.

Ia segera bergerak menghampiri. Kerinduannya begitu membuncah. Hendak disapanya perempuan pujaan yang selalu dinantikannya selama ini.

"Terima kasih, Ratih …," ucapan perempuan itu menghentikan niatnya, "ini kali pertama aku berani datang lagi ke sini. Tugu tetap gagah dan indah, di sini kami pertama bertemu. Tapi di sini pula dia pergi."

Seorang gadis cantik berambut panjang segera memeluk dengan penuh kasih sayang. Kepalanya disandarkan perlahan di bahu perempuan berbaju batik warna toska yang mulai berlinang air mata. Beruntung, tak cukup ramai lalu lalang di hadapan mereka.

"Ratih dengar dari Ibu, Eyang. Ratih senang Eyang sudah mau mengikhlaskan. Kecelakaan yang mengerikan …, pastinya. Kita sama-sama doakan Eyang Kakung, ya, Eyang…."

Post a Comment

Tidak ada komentar