Wedang Uwuh Rasa Cinta

Suaranya pelan, tapi entah mengapa selalu saja menggetarkan. "Tiap kali ke sini, kenapa kamu pilihnya selalu minum ini, Mas?" tanyanya.

Angin kawasan Panggang, Gunungkidul, menghembus nakal, menyibak-nyibak rambut hitamnya yang selalu sebahu sejak dulu. Wangi, mendebarkan. Aku segera memasangkan jaket ke tubuhnya yang kurus. Dia tersenyum, manis seperti biasanya.

Satu seruputan dulu. Panas dan menyegarkan. "Memangnya kenapa, De? Kan sudah kubilang, di tempatku tak ada minuman seperti ini, unik dan menyehatkan."

Haira. Perempuan bergelar adik. Tapi sebutan 'de' itu jarang terpakai, kalah oleh panggilan 'yang' dan 'beb'. Adik, karena anak Paklik, saudara jauh Bapak. Seiring perjalanan waktu, kini tinggal menunggu hitungan hari saja statusnya menjadi halal. Aih, studiku di Jogja benar-benar membawa gelar dan jodoh. Pintar, kata Bapak yang asli kelahiran Jogja.

Senyumnya berganti kerlingan manja. "Ya … dari namanya saja 'uwuh', itu artinya sampah kan, Mas?" tanyanya sambil meraih gelas teh serainya.

Aku meraih pisang goreng yang masih mengepul. Memang pas untuk suasana pagi jelang siang ini. Angin dari selatan tak henti menerpa resto apik ini.

Aku punya alasan. "Wedang uwuh ini minuman pertama yang kamu sajikan, Beb, disuruh bapakmu kan? Biar anak Jakarta tahu minuman tradisional, katanya, aku masih ingat. Minuman kenangan, ini tuh. Lebih dari itu, racikannya mengandung daun cengkeh, kayu manis, daun pala, jahe, kayu secang…," tiba-tiba saja aku berceramah sembari menatap binar matanya yang berkilau-kilau.

Bukannya terpukau, malah ngakak. "Kamu tau dari manaaa?" tanyanya sambil melirik handphone di atas meja. Senyumnya terus mengembang.

Aku pura-pura tak dengar, menatap kumpulan pohon sengon yang bergoyang-goyang di kejauhan. Angin selatan tak ada henti-hentinya bertiup. Pengunjung resto sebagian beranjak ke atas bukit tempat kincir angin berjejer. Selfie, foto rame-rame, mereka terlihat heboh dari kejauhan.

Seusai mengelap mulut yang terkontaminasi minyak pisang goreng, barulah kuungkapkan alasanku, "Sebetulnya, setiap kali meminum wedang uwuh ini, aku juga jadi ingat kamu, Yang." Dia mengernyit. Tampak tak sabar menunggu kelanjutan pidatoku.

Aku memasang jeda, dengan santai mencoba meraih pisang goreng lagi. Tapi tangannya yang sudah terlatih jurus silat sejak kecil itu cepat bertindak, menepuk tangan kananku sampai terdiam manja di atas meja. Kugaruk kepala dengan tangan kiri, nyengir. "Yang jelas tho kalau bicara. Lanjutin!"

Harus mengalah. "Semua daun-daunan dan bahan wedang uwuh ini memang berkhasiat. Keren, seperti kamu …," matanya bercahaya kalau senang dengan pujian, "tapi terutama gula batulah yang memantapkan semuanya. Keras, seperti keras kepala kamu, tapi larut dan …." Dan tak berlanjut.

Hampir aku terpekik. Cubitannya pancen joss tenan! Duh, biyuuung! Haira, kamu ya ....

Post a Comment

Tidak ada komentar