Mereka yang Kembali


"Sudah cukup lama tak kubaca tulisanmu, ke mana saja? Aku rindu tulisanmu. Tulisanmu sudah mengubah kehidupanku," tulisnya di ruang chat yang sudah mulai berlumut karena terlalu lama kutinggalkan.

Ini pesan yang kesekian. Pesan-pesan itu memang kubiarkan, seiring alang-alang makin meninggi dan rumput liar mengerumuni ruang chat yang dulu sering kujadikan tempat pertemuan.

"Paling tidak, berkirimlah kabar, biar aku tak cemas," tambahnya lagi.

Hening. Sekian saat lagi dalam kekosongan.

"Kenapa?" tanyaku, akhirnya.

Tak ada jawaban. Lama. Begitu lama. Hingga pertanyaan itu terlupakan. Lantas, sebuah kejutan datang.

"Maafkan, waktu chat-ku sudah habis, Sayang. Sang Penerang tak lagi kasih aku kesempatan. Kukirimkan hadiah ini, semoga kau senang. Maaf lagi, hanya ini yang mampu kuberikan. Teruslah berkarya. Terima kasih, selamat tinggal," tulisnya dalam secarik kertas putih di dalam sampul surat kecil berwarna ungu pudar yang menempel pada kotak bingkisan.

Aku terhenyak. Mau ke mana dia? Sudah bosankah dia dalam penantian? Tak tahan lagikah menungguku yang terlalu galau dalam kegamangan? Bungkusan itu kubuka perlahan.

Byar! Semburat cahaya menyilaukan memancar dari dalam paket kiriman. Aku terpukau. Tanganku segera menutupi mulutku yang menganga tanpa sadar. Kata-kata! Ribuan kata-kata! Mereka, beraneka warna, tersusun rapi di dalam kotak bingkisan. Berkilauan. Beberapa mulai tampak melayang-layang, menari-nari, menggodaku, meminta ditangkap atau diajak bermain.

Aku tersenyum. Senyum diiringi derai keharuan. Senyum pertamaku setelah sekian lama kehilangan. Kata-kata. Mereka sudah dikembalikan.

Post a Comment

Tidak ada komentar