Pilihan


Pilih ini, itu ... atau itu, sih?

Sampai beberapa saat Asep masih bingung menentukan pilihan. Ia hanya tertegun di depan tiga toples jumbo yang harus dipilihnya. Bukan masalah uangnya, masih punya dan cukup, tapi ia menunggu sebuah isyarat.

"Mau ke Bandung lagi, A? Bawa oleh-oleh spesial lagi, ya?"

Isyarat itu muncul sudah. Suara lembut yang diiringi senyum terbaik di seantero Tatar Galuh. Versi Asep, tentu saja. Senyum yang membuat acara pulang kampungnya ke Rajadesa makin kerap, akhir-akhir ini. Ibunya sampai menduga ia kebanyakan cuti kerja.

"Iya, Din. Saya lebih suka yang asli Ciamis. Pingin bawa yang sekampung aja ..., eh," jawaban Asep meluncur lancar dan tiba-tiba berhenti begitu saja.

Wajah putri penjual makanan khas Ciamis itu segera merona merah. Ia menunduk sambil memegang tutup toples. Hatinya berdebar. Ini minggu ketiganya melayani Asep membeli oleh-oleh untuk dibawa ke Bandung. Pemuda arsitek lulusan PTN terkenal di Bandung itu terasa sangat perhatian, tapi selalu sopan.

"Andin pilihin mustopa aja ya, A?" gadis itu berusaha menutupi gugupnya dengan mulai membuka tutup toples.

"Oh, iyyaah ... apa aja asal kamu yang pilihin. Eh, tapi ... itu mah toples surundeng, Din."

"Eh, iya, aduh. Sebentar ya, A ...."

Post a Comment

Tidak ada komentar