Seusai Gejayan Memanggil


Ia sudah bersiap pulang ketika sebuah pesan Whatsapp hinggap di hp-nya.

"Kamu ke mana aja sih, aku kuatir tau!" Ada emot love seperti biasa di ujung kata. Ia menghembus napas. Lama pesan itu tak dijawabnya.

"Aku tau kamu di situ, baca pesanku. Ga mau jawab? Aku cuma kuatir, tadi ada demo 'Gejayan Memanggil' kan, yang ikut banyak banget. Takut kamu kenapa-kenapa. Ngerti to?"

Ia mengalah, menjawab.

"Nasib negeri ini lebih patut kita kuatirkan, makanya aku ikut aksi demo ini."

"Aku tau kamu tu idealis, tapi jaga diri juga kan wajib to, beb."

"Ga usah kuatir, mereka yang jago bohong yang harus kuatir sama nasibnya besok."

"Para pemimpin maksud kamu ya Mas?"

"Yo ndak cuma pemimpin, to. Yang diem-diem ikutan demo sama fans SMA-nya dulu juga kudu mikir lho. Aku tau kamu tadi ada di belakang sama dia ... bukan pergi nganter Tante kan?"

Sepi. Ringtone pun seolah mati. Tidak ada jawaban lagi. Aksi sudah usai. Satu kisah juga ikut selesai.

Tiba-tiba ia kembali tersadar, kebohongan semakin rapat mengurungnya. Perjuangan belum usai. Hatinya kian terbakar.

Post a Comment

Tidak ada komentar